Monday, May 22, 2017

Tiga Manfaat Pelukan Bagi Suami Istri

Inilah tiga Manfaat Pelukan Bagi Suami Isteri

Pelukan, meskipun hanya dilakukan sebentar, ternyata mendatangkan banyak manfaat bagi suami istri. Berikut ini adalah tiga diantara sekian banyak manfaat pelukan bagi suami istri beserta penjelasan ilmiahnya:

1. Menenangkan
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari gua Hira seusai menerima wahyu pertama, beliau menggigil seperti demam. “Zammilunii… zammiluni…” kata beliau meminta Khadijah menyelimutinya. Pada saat itu Rasulullah mengkhawatirkan dirinya, namun dengan dukungan sang istri, kekhawatiran itupun sirna.

“Saat tubuh merasakan sentuhan, nueotransmitter di otak akan mengirimkan hormon Endormorfin ke dalam aliran darah dengan jumlah cukup besar. Hormon tersebut mampu menurunkan ketegangan saraf dan tekanan darah” tulis Cahyadi Takariawan dalam Wonderful Family.

Demikianlah, Anda juga bisa mempraktekkannya. Jika suami Anda kalut, galau, atau menghadapi masalah, peluklah ia. Sebagai istri, Anda adalah orang yang paling berhak menenangkannya. Buktikan bahwa diri Anda adalah perhiasan terbaik di muka bumi.

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adaah wanita shalihah” (HR. Muslim).

Demikian pula jika istri Anda menghadapi masalah atau mengkhawatirkan buah hatinya, yang sedang sakit misalnya. Pelukan Anda akan membantu menenangkan dirinya.

2. Memberikan dukungan
Sebuah penelitian yang dilakukan University of California membuktikan, suami istri yang saling berpegangan tangan dan bersentuhan dapat mengurangi rasa sakit. Penelitian lain menunjukkan, berpelukan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memberikan semangat.

Pepatah Arab mengatakan, “Di balik pahlawan besar selalu ada perempuan agung.” Maka jika Anda menginginkan suami berprestasi dan menjadi pahlawan, dukungan Anda adalah salah satu kuncinya. Dukungan tidak selalu harus berupa kata-kata. Terlebih bagi banyak pria, mereka kurang bisa menjadi pendengar yang baik. Maka sedikit kata yang kau bisikkan disertai pelukan akan menjadi salah satu dukungan dan motivasi besar baginya.

“Perempuan bagi banyak pahlawan,” kata Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia, “adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan gairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energinya di luar rumah dan mengumpulkannya kembali di dalam rumah.”

3. Mendekatkan hubungan
Terkadang, sulit bagi suami istri yang sedang marahan atau berselisih untuk memulai meminta maaf dengan kata-kata. Nah, jika Anda saat ini sedang ada “masalah”dengan istri atau suami Anda, dekatilah ia. Kemudian peluklah ia. Jika bibir belum mampu bicara banyak, cukup kalimat singkat “Maafkan aku sayang.”

Pelukan seperti ini tentu saja tidak hanya dibutuhkan pada saat terjadi konflik. Pelukan yang rutin dilakukan oleh suami istri akan semakin mendekatkan hubungan keduanya.

Wallaahu a’lam bish shawab

Sunday, May 21, 2017

Doa Yang Paling Sering Dibaca Seorang Muslim

COBALAH SIMAK DOA DUDUK DIANTARA DUA SUJUD DLM SHOLAT BILA KITA HAYATI :

√ ROBIGHFIRLII,
√ WARHAMNII,
√ WAJBURNII,
√ WARFA’NII,
√ WARZUQNII,
√ WAHDINI,
√ WA’AAFINII,
√ WA’FUANNII

Ketika orang ditanya, “do’a apakah yang paling sering dibaca oleh seorang muslim ?”,
Banyak yang menjawabnya dengan salah. Begitu seringnya do’a itu dibaca, sehingga ketika sedang membaca do’a banyak yang tidak merasa berdo’a.

Padahal do’a itu sangat dahsyat, mencakup kebutuhan kita di dunia dan akhirat. Dan dibaca minimal 17 kali setiap hari

Do’a itu adalah DO’A DIANTARA DUA SUJUD, marilah kita renungi maknanya :

ROBIGHFIRLII.
Wahai Tuhan ampunilah dosaku.
Dosa adalah beban, yang menyebabkan kita berat melangkah menuju ke ridho اللّهُ Dosa adalah kotoran hati yang membuat hati kelam sehingga hati kita merasa berat untuk melakukan kebaikan.

WARHAMNII.
Sayangilah diriku.
Kalau kita disayang اللّهُ hidup akan terasa nyaman, karena dengan kasih Sayang akan dapat dicapai semua cita2. Dengan kasih Sayang اللّهُ nafsu kita akan terbimbing.

WAJBURNII.
Tutuplah segala kekuranganku.
Banyak sekali kekurangan kita, kurang syukur, kurang sabar, kurang bisa menerima kenyataan, mudah marah, pendendam dll. Kalau kekurangan kita ditutup/diperbaiki اللّهُ , maka kita akan menjadi manusia sebenarnya.

WARFA’NII.
Tinggikanlah derajatku.
Kalau اللّهُ sudah meninggikan derajat kita, maka pasti tidak ada manusia yang bisa menghinakan kita.

WARZUQNII.
Berikanlah aku rizki,
Sebagai hamba اللّهُ kita membutuhkan rizki اللّهُ mampu mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga dan tanpa perhitungan.

WAHDINI.
Berikanlah aku petunjuk/bimbinglah aku ke jalan kebahagiaan.
Kita tidak hanya minta petunjuk/hidayah yang berkaitan dengan akhirat, tetapi kita juga minta petunjuk agar terhindar dari mengambil keputusan yang salah utk kebahagiaan di dunia.

WA’AAFINII.
Berikanlah aku kesehatan.
Apabila kita sehat kita bisa menambah kebaikan dan manfaat serta tidak menjadi beban orang lain.

WA’FUANNII.
Aku mohon agar kesalahanku dihapus dari catatan.

Dari do'a tsb diawali do’a dengan mohon ampun dan kita akhiri dengan permohonan ampunan utk menghapus dosa. Sehingga kita berharap benar-benar bersih dari dosa.

ALLAH SWT memerintahkan kita untuk membaca do’a itu, Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita sprti itu.

TERKADANG YG JADI PERSOALAN DI MANA HATI DAN  PIKIRAN KITA KETIKA KITA MEMBACA DO’A ITU ?
DAN BANYAK DIANTARA KITA TIDAK MENGERTI MAKNANYA.

Padahal dahsyat doa tsb, dan masih banyak orang, entah dia imam atau pun makmum..., sering tergesa-gesa membacanya. Seharusnya  tuma'nina dgn meresapi dan benar2 meminta kepada ALLAH SWT.

Marilah kita resapi dg tuma'ninah semoga mendapatkan dahsyatnya do'a ini.
َآمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين.

Masa Iddah Wanita Yang Ditinggal Mati Suami


Pertanyaan:
Àfwan Admin mau tanya nih. Bgmn fiqh wanita yang sedang masa iddah di tinggal mati suami berapa lama dan benarkah selama masa iddah tersebut wanita tdk boleh keluar rumah.....?
Makasih sebelumnya

Pendengar syair tauhid aceh.
__________________________

JAWABAN :

Terkait permasalahan yang ditanyakan maka ada beberapa perkara yang akan kita uraikan insyallah :

PERKARA PERTAMA:
MASA 'IDDAH WANITA YANG DI TINGGAL MATI OLEH SUAMI.

Masa 'iddah wanita yang ditinggal mati oleh suaminya ada dua keadaan:

1.Keadaan pertama :
Wanita yang ditinggal mati suaminya tersebut dalam keadaan hamil.

Maka masa ‘iddah-menunggunya berakhir setelah wanita tsb melahirkan.

Sesuai firman Allâh Azza wa Jalla :
*وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعْنَ حَمْلَهُن_.* 

َّDan wanita-wanita yang hamil masa 'iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.
QS : Ath-Thalaq.

Demikian pula hadits
Al-Miswar bin Makhramah Radhiyallahu 'anhu,
Beliau berkata :

:أَنَّ سُبَيْعَةَ الْأَسْلَمِيَّةَ نُفِسَتْ بَعْدَ وَفَاةِ زَوْجِهَا بِلَيَال_ٍ
فَجَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ أَنْ تَنْكِحَ فَأَذِنَ لَهَا فَنَكَحَت.

ْSubai’ah al-Aslamiyah Radhiyallahu anha melahirkan dan bernifas setelah kematian suaminya. Lalu ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta izin untuk menikah lagi,
Kemudian beliau pun mengizinkannya,
Subai'ah pun menikah lagi.
HR.Bukhori dan Muslim.

2. Keadaan kedua :
Wanita tersebut tidak dalam keadaan hamil.
Maka masa ‘iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۗ
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير_.

ٌOrang-orang yang wafat diantaramu dengan meninggalkan isteri-isteri, Hendaklah para isteri itu menangguhkan dirinya —ber’iddah empat bulan sepuluh hari.
Apabila telah habis ‘iddahnya,
Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allâh mengetahui apa yang kamu perbuat.
QS : Al-Baqarah : 234].
———————————————

PERKARA KEDUA:
Hendaklah wanita yang ditinggal mati suaminya tersebut menghabiskan masa 'iddahnya di rumah suaminya tatkala ia wafat.
Tidak diperkenankan bagi wanita tersebut untuk keluar rumah kecuali ada keperluan penting dan mendesak.

Berkata Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah :

وللمعتدة الخروج في حوائجها نهارا. 

Diperbolehkan bagi wanita yang sedang menjalani masa 'iddah untuk keluar dari rumahnya di siang hari ketika ada keperluan.

Sumber :
Kitab Al-Mughni : 8/130.

Demikian pula disebutkan dalam salah satu fatwa dewan komite fatwa arab saudi - Lajnah Ad-Daimah :

الأصل: أن تحد المرأة في بيت زوجها الذي مات وهي فيه،
ولا تخرج منه إلا لحاجة أو ضرورة؛ كمراجعة المستشفى عند المرض، وشراء حاجتها من السوق كالخبز ونحوه،
إذا لم يكن لديها من يقوم بذلك.

Hukum asal bagi seorang wanita adalah menjalani masa 'iddahnya di rumah sang suami.
Dan hendaklah ia tidak keluar dari rumah tersebut kecuali ada keperluan penting dan darurat seperti : berobat ke rumah sakit, membeli keperluannya dipasar seperti membeli roti dan semisalnya, jika tidak ada orang lain yang bisa membantunya dalam memenuhi kebutuhannya tersebut.

Sumber:
Fatawa Al-Lajnah Ad-daimah : 20/440.

Wallahu ta'ala a'lam.

Semoga bermanfaat.

Friday, May 19, 2017

Apa itu Dayyuts.....???


UNTUK PARA SUAMI 'DAYYUTS' YANG MEMBIARKAN FOTO ISTRINYA ATAU SAUDARA PEREMPUANNYA DI MEDSOS

Seorang suami atau laki-laki 'dayyuts' adalah yang tidak cemburu terhadap istri dan mahramnya. Disebutkan dalam Ensiklopedi Fiqh tentang laki-laki 'dayyuts',

 عدم الغيرة على الأهل والمحارم

"Tidak cemburu terhadap istri dan mahram." [Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah, 21/91]

Tidak cemburu maknanya adalah tidak melarang istri atau mahramnya terjerumus dalam zina dan pintu-pintunya. Dan pintu-pintu zina diantaranya dijelaskan dalam hadits Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُه

“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan mengenainya tidak mungkin tidak, maka kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah meraba, kaki zinanya adalah melangkah, hati bernafsu dan berkeinginan, dan yang membenarkan serta mendustakan semua itu adalah kemaluan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hadits yang mulia ini mengandung larangan bagi laki-laki melihat lawan jenis yang bukan istrinya atau bukan mahramnya, karena pandangan adalah awal pintu zina. Petaka zina berawal dari sebuah pandangan, bagaikan kobaran api yang berawal dari sebuah percikan kecil.

Dan larangan di sini bersifat umum, maka tidak ada bedanya apakah wanita tersebut sudah menutup aurat atau belum, bahkan sebagian lelaki malah lebih 'terfitnah' dengan wanita yang telah menggunakan jilbab syar'i. Kecuali melihat wanita untuk suatu keperluan penting yang diizinkan syari'at, seperti melihat ketika melamar, melihat dalam pengadilan jika diperlukan, dan lain-lain.

Maka seorang suami atau laki-laki yang membiarkan foto istri atau mahramnya dilihat oleh laki-laki lain di medsos atau di mana pun termasuk laki-laki 'Dayyuts' yang telah diancam keras dalam hadits Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam,

ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

“Tiga golongan manusia yang Allah haramkan surga bagi mereka:

(1) Pecandu khamar,

(2) Orang yang durhaka kepada kedua orang tua,

(3) Dayyuts; orang yang membiarkan kemaksiatan di tengah-tengah keluarganya.”
[HR. Ahmad dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 2366]

KISAH KECEMBURUAN YANG MENGHARUKAN

Hakim Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Musa rahimahullah berkata,

حضرت مجلس موسى بن إسحاق القاضي بالري سنة ست وثمانين ومائتين، وتقدمت امرأة، فادعى وليها على زوجها خمس مائة دينار مهرا، فأنكر، فقال القاضي: شهودك؟ قَالَ: قد أحضرتهم، فاستدعى بعض الشهود أن ينظر إلى المرأة ليشير إليها في شهادته، فقام الشاهد، وقالوا للمرأة قومي، فقال الزوج: تفعلون ماذا؟ قَالَ الوكيل: ينظرون إلى امرأتك وهي مسفرة لتصح عندهم معرفتها، فقال الزوج: فإني أشهد القاضي أن لها علي هذا المهر الذي تدعيه، ولا تسفر عن وجهها، فردت المرأة وأخبرت بما كان من زوجها، فقالت المرأة: فإني أشهد القاضي أني قد وهبت له هذا المهر وأبرأته منه في الدنيا والآخرة، فقال: القاضي يكتب هذا في مكارم الأخلاق.

“Aku hadir di majelis Hakim Musa bin Ishaq di daerah Ray pada tahun 286 H, ketika itu datang seorang wanita mengajukan sebuah kasus, walinya menuntut suaminya sebesar 100 dinar (425 gram emas) sebagai mahar baginya yang belum dibayar, tetapi suaminya mengingkari tuntutan tersebut.

Maka hakim berkata: Mana saksi-saksimu?

Ia berkata: Inilah mereka telah aku hadirkan.

Kemudian sebagian saksi meminta untuk melihat wajah wanita tersebut agar dapat memastikan persaksiannya, saksi pun berdiri, dan mereka berkata kepada sang istri: Berdirilah!

Sang suami pun berkata: Apa yang akan kalian lakukan?

Wakil mereka berkata: Para saksi akan melihat istrimu dalam keadaan terbuka wajahnya (tanpa cadar) agar mereka dapat memastikan siapa wanita tersebut.

Maka sang suami berkata: Sungguh aku persaksikan kepada hakim bahwa aku harus membayar mahar sesuai tuntutannya, tetapi janganlah ia membuka wajahnya.

Sang istri segera merespon sikap suaminya, ia berkata: Sungguh aku pun mempersaksikan kepada hakim bahwa aku telah memberikan kepadanya mahar tersebut dan aku lepaskan tuntutan darinya di dunia dan akhirat. Hakim berkata: Ini harus ditulis dalam kemuliaan akhlak.” [Tarikh Bagdad, 13/55]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Saturday, January 14, 2017

Kebiasaan Baik, Bisa Jadi Tidak Berpahala

Sekedar kebiasaan baik saja, maka bisa jadi tidak berpahala.

Niatkanlah  setiap kebiasaan baik kita untuk menjadi ibadah. Karena jika sekedar kebiasaan baik saja maka tidak mendapat pahala. Misalnya:

1. Seorang yang punya kebiasaan baik suka ramah dan tersenyum pada orang lain, akan tetapi ia lakukan hanya sekedar kebiasaan atau karena tidak enak dengan orang. Maka ini tidak mendapat pahala

2. Seorang yang punya kebiasaan ringan tangan, membantu orang lain. Akan tetapi ia lakukan semata-mata hanya karena kebiasaan atau dengan niat, kita harus bantu orang supaya kalau ada apa-apa kita juga dibantu oleh orang lain. Maka ini tidak mendapatkan pahala.

Kebiasaan-kebiasaan ini tidak akan mendapat pahala atau bernilai di sini Allah kalau dilakukan hanya karena kebiasaan. Haruslah dilakukan karena berniat pahala dan niat itu sebanding dengan ilmu. Maka seseorang mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِىءٍ مَا نَوَى

“Setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan”[1]

Kebiasaan dan hal yang mubah bisa menjadi pahala. Sebagaimana tidur adalah hal yang mubah, tetapi bisa berpahala.

Tentu lebih besar lagi niatnya jika anda semakin ikhlas dan semakin berilmu. misalnya anda hafal haditsnya dan teringat tentang hadits kemuliaan berwajah ceria dan anda ikhlas ketika melakukannya.

Mu’aadz bin Jabal radhiallahu ‘anhuberkata,

أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ وَأَرْجُو فِي نَوْمَتِي مَا أَرْجُو فِي قَوْمَتِي.

“Adapun aku, maka aku tidur dan sholat malam, dan aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana pahala yang aku harapkan dari shalat malamku”[2]

Ibnu Hajr Al-Asqalani rahimahullahmenjelaskan,

وَمَعْنَاهُ: أَنَّهُ يَطْلُب الثَّوَاب فِي الرَّاحَة كَمَا يَطْلُبهُ فِي التَّعَب, لِأَنَّ الرَّاحَة إِذَا قُصِدَ بِهَا الْإِعَانَة عَلَى الْعِبَادَة حَصَّلَتْ الثَّوَاب

“Maknanya adalah ia mencari ganjaran pahala dalam istirahat sebagaimana ia mencarinya dalam kelelahan (ibadah), karena istirahat jika dimaksudkan untuk membantu dalam beribadah maka akan mendatangkan pahala”[3]

Jadi, jangan sampai kebiasaan-kebiasaan baik kita hanya sekedar kebiasaan semata atau mengalir begitu saja untuk kepentingan dunia tanpa ada orientasi akhirat.

Demikian semoga bermanfaat

[1] HR Al-Bukhari no 1 dan Muslim no 1907
[2] HR Al-Bukhari no 6923 dan Muslim no 1733
[3] Fathul Baari 8/62

Bagi yang men-Share InsyaAllah mendapat pahala yang berlimpah. Aamiin

Monday, January 9, 2017

Wahai Kristiani, Bacalah 13 Alasan Adebayor Memeluk Islam !


Inilah 13 Alasan Adebayor Memeluk Islam !

Redaksi – Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1438 H / 7 Januari 2017 07:19 WIB

Eramuslim.com – Inilah 13 alasan Adebayor
memeluk Islam sebagaimana dirilis oleh
theheraldng.com. Pesepakbola yang pernah bermain untuk klub-klub sepak bola top Eropa: Arsenal, Manchester City, Real Madrid, dan kini Tottenham Hotspurs ini
mengatakan, “Aku punya 13 alasan yang kuat mengapa seorang muslim itu sama seperti Yesus dan mereka lebih mengikuti Yesus daripada orang-orang Kristen:

Pertama,
Yesus mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Hanya satu Tuhan saja yang berhak untuk disembah. Hal itu termaktub dalam Deut 6:4, Mark 12:29. Umat Islam juga meyakini demikian. Sebagaimana diajarkan Alquran dalam surat 4
(An-Nisa) ayat 171.

Kedua,
Yesus tidak makan daging babi. Dijelaskan dalam Leviticus 11:7. Sama dengan yang dilakukan umat Islam. Dan hal itu dijelaskan Alquran dalam surat 6
(Al-An’am) ayat 145.

Ketiga,
Yesus mengucapkan salam dengan kalimat
“assalamu’alaikum” (kedamaian selalu
bersamamu). Terdapat dalam John 20:21. Muslim juga mengucapkan salam dengan cara demikian.

Keempat,
Yesus selalu mengucapkan “God Willing” (insya Allah). Umat Islam mengucapkan kalimat ini juga sebelum mereka melakukan apapun.
Sebagaimana dituntunkan dalam Alquran surat 18 (Al-Kahfi) ayat 23-24.

Kelima,
Yesus mencuci wajah, kedua tangan, dan kedua kakinya sebelum shalat. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang muslim.

Ke-enam,
Yesus dan nabi-nabi lainnya yang terdapat di dalam Injil shalat dengan meletakkan kepala mereka di tanah. Dijelaskan dalam Matthew 26:39. Muslim juga melakukan demikian. Sebagaimana diajarkan Alquran dalam surta 3 (Ali Imran) ayat 43.

Ketujuh,
Yesus memiliki janggut dan memakai throbe (gamis). Hal ini disunnahkan bagi seorang muslim.

Kedelapan,
Yesus mengikuti syariat (syariatnya tauhid sama seperti nabi-nabi sebelumnya pen.) dan mengimani semua nabi. Lihat Matther 5:17. Muslim juga diajarkan demikian oleh Alquran. Lihatlah surat 3 (Ali Imran) ayat 84 dan 2 (Al-Baqarah) 285.

Kesembilan,
Ibu Yesus, Maryam, mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya dan mengenakan hijab. Sebagaimana terdapat dalam 1 Timothy 2:9, Genesis 24: 64-65, dan Corinthians 11:6. Wanita muslimah juga mengenakan pakaian yang sama.
Alquran mengajarkan mereka dalam surat 33 (Al-Ahzab) ayat 59.

Kesepuluh,
Yesus dan nabi-nabi lainnya yang disebutkan di dalam Injil berpuasa hingga lebih dari 40 hari. Lihat Exodus 34:28, Daniel 10:2-6. 1Kings 19:8 dan Matthew 4:1. Muslim pun berpuasa selama bulan Ramadhan. Seorang muslim diwajibkan
berpuasa sebulan penuh, 30 hari. Lihat Alquran surat 2 (Al-Baqarah) ayat 183. Kemudian dianjurkan untuk melanjutkan berpuasa 6 hari untuk menambah ganjaran pahala.

Kesebelas,
Yesus mengajarkan agar berucap “Kedamaian untuk rumah ini” ketika memasuki rumah. Lihat Luke 10:5. Dan juga memberi salam kepada orang-orang di dalam rumah dengan ucapan “Kedamaian untuk kalian”. Sekali lagi, muslim
melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan dan diajarkan Yesus. Ketika kita masuk ke rumah kita, atau rumah orang lain, kita mengucapkan “Bismillah” dan juga memberi salam
“assalamualaikum”. Inilah tuntunan Alquran dalam surat 24 (An-Nur) ayat 61.

Kedua belas,
Yesus dikhitan (disunat). Khitan merupakan salah satu dari 5 sunnah fitrah dalam ajaran Islam. Dalam Islam, seorang laki-laki diwajibkan untuk berkhitan. Berdasarkan Injil Luke 2:21. Yesus berusia 8 hari saat ia dikhitan. Di dalam Taurat, Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim bahwa khitan adalah sebuah “perjanjian abadi”. Lihat Genesis
17:13. Di dalam Alquran, surat 16 (An-Nahl) ayat 123, seorang muslim diwajibkan untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Ibrahim berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Ketiga belas,
Yesus berbicara dalam bahasa Aramaik dan
menyebut Tuhan dengan Elah. Secara penyebutan atau pelafalan, sama dengan lafadz Allah. Aramaik adalah bahasa kuno. Ia merupakan bahasa Bible. Bahasa ini merupakan salah satu dari Bahasa
Semit. Termasuk juga bahasa Hebrew (Ibrani), Arab, Ethiopia, dan bahasa-bahasa kuno lainnya seperti bahasa Assyria dan Babylonia yang merupakan Bahasa orang-orang Akkadia.

Bahasa Aramaik “Elah” dan bahasa Arab “Allah” adalah sama.
Kata Aramaik “Elah” berasal dari bahasa Arab “Allah”. Yang artinya adalah Tuhan. Allah dalam bahasa Arab artinya juga Tuhan. Tuhan Yang Mahatinggi.

Anda bisa dengan mudah mendapatkan kesamaan pelafalannya. Dengan demikian, Tuhannya Yesus juga merupakan Tuhannya orang-orang Islam. Dialah Tuhan semua manusia. Dan Tuhan semua makhluk yang
ada.

Nah, sekarang katakan kepadaku, siapakah
pengikut Yesus yang sebenarnya? Tentu saja jawabnya umat Islam.

Sekarang saya yakin saya telah menjadi pengikut Yesus yang sebenarnya,” tutup Adebayor.

Semoga bermanfaat.

Sunday, January 8, 2017

MASALAH SUAMI-ISTRI & RUMAH TANGGA


Mendeteksi Ciri-ciri Istri Durhaka

Oleh : Maaher At-Thuwailibi.

Baca baik-bak sampai selesai dan pahamilah.

Dalam sejarah perjalanan manusia, tidak pernah ada istilah “suami durhaka”. Yang ada adalah istri durhaka. sama dengan tidak ada istilah “orang tua durhaka”. yang ada adalah anak yang durhaka. tapi suami zhalim, ada. orang tua zhalim, juga ada. semua prilaku ini adalah DOSA BESAR dan terkutuk. suami yang tidak menunaikan kewajibannya dan tidak memenuhi hak-hak istrinya, ini suami zhalim namanya. cepat segera bertaubat kepada Allah Ta'ala sebelum mendapatkan kemurkaannya.

Karena sesungguhnya, para wanita atau para istri pun mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. sampai-sampai, seorang suami HARAM HUKUMNYA melarang keluarga istrinya untuk mengunjungi anak mereka; kecuali jika dikhawatirkan akan merusak dan mempengaruhinya untuk melakukan nusyuz (kedurhakaan pada suami), maka suami pada saat itu boleh melarang keluarga istrinya datang menemui anaknya.

Kata Nabi:

خيركم خيركم لأهله

“sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada kelurganya”.

Tapi INGAT, baik kepada keluarga yang dimaksud Sabda Nabi disini bukanlah dengan cara mengajak jalan-jalan, memberi izin istri melenggang sana-sini, arisan, ngajak shoping, ke mall, cuci mata dan telinga, atau memberikan apa saja yang di inginkan dan seterusnya. Tapi yang dimaksud “baik kepada keluarga” dalam sabda Nabi yang mulia ini adalah dengan memberinya nafkah, mencukupi kebutuhannya lahir dan batin, tidak menyia-nyiakannya, menunaikan kewajiban dan memenuhi hak-haknya, menyayanginya dengan sepenuh hati, tidak memukulnya kecuali dengan alasan yang sangat ketat yang dibolehkan syari'at, memperhatikan urusan dunia dan agamanya, mendidiknya menjadi hamba yang taat kepada Rabb-Nya, dan yang terpenting menjaganya dari azab api neraka.

CATAT : kesholihan seseorang bukan terletak pada penampilan zhahir. jika ia bergamis, berjenggot, dan berpenampilan islami lantas otomatis ia menjadi sholih. Oh tidak. jika bergamis, berjenggot, namun durhaka pada orang tua, ia amat sangat tidak pantas menyandang gelar sebagai orang yang shalih. karena keridhoan orang tua berada pada ridhonya Allah ta'ala. demikian pula seorang wanita yang berhijab, jilbab lebar, atau bahkan bercadar sekalipun, ia bukanlah perempuan sholihah jika ia DURHAKA PADA SUAMINYA dan tidak menunaikan kewajibannya sebagai istri. kerudung panjang, atau hijab dan cadar yang dikenakan bukanlah ukuran wanita sholihah. karena kerudung, hijab, memanglah suatu kewajiban syari'at yang wajib di laksanakan setiap perempuan muslimah. Jika ia tidak menutup auratnya, ia berhak mendapatkan siksa dan azab yang pedih di neraka.

TAHAP AWAL seorang istri menjadi sosok istri durhaka adalah, tidak betah di rumah. pengennya jalan-jalan, keluar rumah, ketemu si fulan, ketemu si 'allan dst. Alasannya, kangen dengan si fulan, atau alasan jenuh, dst. kalau tidak di izinkan suaminya, ia pun membangkang. bahkan kadang ia malah menuduh suaminya zhalim dan tidak pengertian padanya.

Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولى

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”.

Seorang isteri yang pergi meninggalkan rumah tanpa izin suami dengan alasan apapun dan meskipun kepergiannya bukan dalam rangka maksiat, tetap saja termasuk wanita tidak baik alias pembangkang/durhaka. Seorang wanita yang sudah menikah, TAAT KEPADA SUAMI HARUS DIDAHULUKAN DARIPADA TAAT KEPADA IBU DAN BAPAK KANDUNGNYA sendiri. hampir saja syari’ah ini menyuruh seorang istri bersujud kepada suaminya, hanya saja tidak dibolehkan bagi seseorang bersujud kepada sesama manusia.

Keluar rumah tanpa izin suami termasuk yang diharamkan Allah ta'ala dan merupakan Dosa Besar sampai ia keluar rumah dalam rangka mengunjungi ibu-bapaknya. bahkan Allah ta’ala melarang wanita yang dicerai suaminya dengan talak raj’i (talak yang masih bisa rujuk) agar tidak keluar rumahnya, lebih-lebih jika istri yang tidak di cerai (thalaq). Jika sang istri merasa kangen pada orang tuanya dan belum siap menikah atau belum siap secara batin mengarungi biduk rumah tangga bersama suami, ya mending tidak usah nikah dulu. puas-puasin dulu “netek” sama ibunya.

Kata Rasulullah:

“Jika isteri keluar rumah tanpa seijin suaminya maka tidak ada hak nafkah dan pakaian untuknya”.

Imam At-Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasullullah Shallallahu` Alaihi Wa Sallam, lalu wanita itu berkata:

“Yaa Rasulullah, aku adalah utusan para wanita yang diutus kepadamu untuk menanyakan bahwa Jihad ini telah diwajibkan Allah kepada kaum lelaki, jika menang mereka diberi pahala dan jika terbunuh mereka tetap diberi rezeki oleh Rabb mereka, tetapi bagaimana dengan kami kaum wanita yang membantu mereka, pahala apa yang kami dapatkan?

Nabi Shallallahu` Alaihi Wa Sallam menjawab:

“Sampaikan kepada para wanita yang engkau jumpai bahwa TAAT KEPADA SUAMI DAN MENGAKUI HAKNYA itu adalah sama dengan pahala jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukanya !”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan imam ahmad dan thabrani, Nabi bersabda:

“Jika seorang isteri itu telah menunaikan solat lima waktu dan berpuasa pada bulan ramadhan dan menjaga kemaluannya dari segala sesuatu yang haram serta TAAT KEPADA SUAMINYA, maka dipersilakan masuk ke surga dari pintu mana saja yang kamu suka.”

MAKA, bagi para suami... pintar-pintarlah mendeteksi istri. Jika tanda-tanda ini mulai tampak pada istrimu, maka ketahuilah bahwa selangkah lagi ia akan menjadi seorang istri durhaka yang sempurna. Tugasmu untuk mendidiknya dengan penuh cinta dan kesabaran. jika ia terus membangkang dan durhaka, maka maslahat yang lebih besar adalah menceraikannya dan mencari istri lain yang lebih baik daripadanya.

Wallahul Musta'an.

Semoga bermanfaat.

Saturday, January 7, 2017

Jangan Pernah Tinggalkan AlQuran


Janganlah tinggalkan Al-Quran dalam kehidupanmu sehari hari.


"ﻫﺠﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ«

ﻫﺠﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺃﻧﻮﺍﻉ:

١- ﻫﺠﺮ ﺳﻤﺎﻋﻪ، ﻭﺍﻹ‌ﻳﻤﺎﻥِ ﺑﻪ، ﻭﺍﻹ‌ﺻﻐﺎﺀِ ﺇﻟﻴﻪ.

 ٢-ﻫﺠﺮ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ، ﻭﺍﻟﻮﻗﻮﻑِ ﻋﻨﺪ ﺣﻼ‌ﻟﻪ ﻭﺣﺮﺍﻣﻪ ﻭﺇﻥ ﻗﺮﺃﻩ ﻭﺁﻣﻦ ﺑﻪ.

٣- ﻫﺠﺮ ﺗﺤﻜﻴﻤﻪ ﻭﺍﻟﺘﺤﺎﻛﻢ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻲ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ ﻭﻓﺮﻭﻋﻪ، ﻭﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻧﻪ ﻻ‌ ﻳﻔﻴﺪ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ، ﻭﺃﻥَّ ﺃﺩﻟَّﺘﻪ ﻟﻔﻈﻴﺔٌ ﻻ‌ ﺗﺤﺼﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ.

٤- ﻫﺠﺮ ﺗﺪﺑُّﺮﻩ ﻭﺗﻔﻬُّﻤﻪ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﻣﺎ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻤﺘﻜﻠﻢ ﺑﻪ ﻣﻨﻪ.
٥- ﻫﺠﺮ ﺍﻻ‌ﺳﺘﺸﻔﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﺪﺍﻭﻱ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﻣﺮﺍﺽ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﻭﺃﺩﻭﺍﺋﻬﺎ، ﻓﻴﻄﻠﺐ ﺷﻔﺎﺀ ﺩﺍﺋﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ، ﻭﻳﻬﺠﺮ ﺍﻟﺘﺪﺍﻭﻱ ﺑﻪ.

ﻭﻛﻞُّ ﻫﺬﺍ ﺩﺍﺧﻞ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﴿ﻮَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺇِﻥَّ ﻗَﻮْﻣِﻲ ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻣَﻬْﺠُﻮﺭًﺍ﴾ [ﺍﻟﻔﺮﻗﺎﻥ: 30].

«ﺍﻟﻔﻮﺍﺋﺪ» ﻻ‌ﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴّﻢ


"Meninggalkan Al Quran
Meninggalkan Al Qur'an itu ada beberapa bentuk :

1. Meninggalkan dari mendengarkannya, mengimaninya, dan mengkonsentrasikan pendengaran kepadanya.

2. Meninggalkan beramal dengannya, dan berhenti disisi halal dan haramnya, walaupun ia membaca dan mengimaninya.

3. Meninggalkan berhukum dan menjadikannya hakim padanya dalam ushuluddin (pokok-pokok agama) serta cabang-cabangnya, dan percaya bahwasanya Al Qur'an tidak menghasilkan keyakinan, dan sesungguhnya dalil dalilnya adalah lafazh yang tidak menghasilkan ilmu.

4. Meninggalkan dari mentadabburinya, merenungi dan memahami, serta mengetahui apa yang Pembicara (Alloh) inginkan (maksudkan) di dalamnya dari Al Qur'an itu.

5. Meninggalkan mencari kesembuhan dan berobat dengan Al Qur'an pada semua penyakit hatinya dan penyakit lainnya, tetapi mencari kesembuhan penyakitnya dari selainnya (Al Qur'an), dan meninggalkan obat obatan darinya (Al Qur'an)

Semua ini termasuk dalam firman Allah Ta'ala :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

"Dan berkata Rosul Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan".
[Al Furqan : 30].

(Alfawaa id Ibnul Qayyim)

Dan takutlah akan ancaman Alloh dalam firman Nya ketika kita berpaling dari Al-Quran

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ (124)

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا (125)

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ (126)ء

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Quran) maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Berkatalah ia: "Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan".

Semoga bermanfaat dan jangan lupa diShare untuk kebaikan kita semua.

Wassalam.

Tuesday, December 27, 2016

RENUNGAN AKHIR TAHUN


Oleh : Ustadz Irfandi, Lc hafizhahullah
Gowa, 26 Rabiul Awwal 1438 H/ 26 Desember 2016

  Perjalanan waktu adalah sunnatullah yang pasti terjadi. Perputarannya adalah arus yang tak bisa terbendung. Anak-anak berjalan menjadi dewasa, orang dewasa menjadi tua adalah sebuah ketentuan dalam kehidupan. Namun, sebagai seorang muslim, hendaknya berupaya mengambil pelajaran di dalamnya.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

"Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan." (QS. An-Nur :44)

Di dalam ayat ini, Allah Ta'ala menyebutkan bahwa pergantian malam dan siang terdapat pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan hati. Bergulirnya hari demi hari,  pekan demi pekan, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun seyogianya menjadi renungan bagi kita untuk mengambil berbagai pelajaran di dalamnya, terkhusus pada akhir tahun di tengah banyaknya kerusakan,  maksiat merajalela, banyak manusia semakin jauh dari agamanya.

  Fenomena bergelimangnya maksiat dan banyaknya pelanggaran syariat yang terjadi pada akhir tahun masehi menjadi sebuah dilema yang menimbulkan banyak tanda tanya.

  Mengapa di negara yang penduduknya mayoritas muslim justru banyak terjadi kemaksiatan? Mengapa banyak kaum muslimin yang ikut mengucapkan selamat natal? Mengapa hanya segelintir dari kaum muslimin yang tidak mau ikut-ikutan dengan orang kafir untuk merayakan tahun baru? Apakah musibah yang terjadi hampir setiap akhir tahun salah satu pemicu utamanya adalah maksiat?

  Dan berbagai pertanyaan lainnya yang muncul dari apa yang kita saksikan dari fenomena akhir tahun. Namun, hendaknya kita sebagai seorang muslim merenungi beberapa ibrah dan hikmah dari akhir tahun.

Mengambil Ibrah dari Akhir Tahun

Diantara pelajaran yang bisa kita petik dari akhir tahun yaitu:

1. Semakin Dekatnya Kematian

Sudah merupakan hal yang kita yakini bahwa kematian pasti akan datang, ajal akan mereguk semua jiwa. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Q.S Ali Imran :185)

Demikian pula kadar dari ajal manusia telah ditentukan. Oleh karena itu, berlalunya tahun demi tahun sejatinya menjadi renungan bagi kita bahwa ajal semakin dekat,  kematian akan segera datang,  yang kemudian menjadi bahan muhasabah (introspeksi) bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Bukan justru dengan masuknya akhir tahun, kita semakin menambah dosa dan maksiat.

2. Motivasi untuk Beramal Saleh

Dengan berlalunya waktu demi waktu seharusnya menjadi bahan renungan dan muhasabah yang memotivasi kita untuk beramal saleh. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)

Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir bin Si'dy -rahimahullah- di dalam tafsirnya,  berkata tentang ayat ini:

" وهذه الآية الكريمة أصلٌ في محاسبة العبد نفسه، وأنّه ينبغي له أن يتفقّدها، فإن رأى زللًا تداركه بالإقلاع عنه والّتوبة النّصوح، والإعراض عن الأسباب الموصلة إليه، وإن رأى نفسه مقصّرا في أمر من أوامر الله بذل جهده واستعان بربّه في تكميله وتتميمه واتقانه "

"Dan ayat yang mulia ini adalah pokok dalam muhasabah (introspeksi) seorang hamba terhadap dirinya,  dan sepatutnya untuk memeriksa dirinya. Jika ia mendapati dirinya terjatuh dalam ketergelinciran, ia pun memperbaiki dirinya dengan berlepas (dari dosa) dan taubat yang nashuh (yang murni), serta berpaling dari segala sebab yang mengantar kepadanya (dosa). Dan jika ia mendapati dirinya kurang dalam melakukan perintah dari perintah-perintah Allah, ia pun mengerahkan kemampuannya dan meminta pertolongan kepada Rabb-nya untuk menyempurnakannya."

3. Urgensi Menjaga Waktu

Di antara bahan muhasabah yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita memahami urgensi dari waktu. Kesempatan waktu untuk hidup di dunia ini hanya sekali,  selebihnya adalah negeri akhirat yang di sanalah kita mempertanggung jawabkan amalan kita. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata:

" ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ  "

"Dunia telah beranjak pergi, sedangkan akhirat telah beranjak datang dan masing-masing memiliki anak-anak. Maka, jadilah anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini adalah masa beramal, bukan masa berhitung, sedangkan esok adalah masa berhitung, bukan masa beramal.”

4. Maksiat Mengundang Bencana

Bila kita mencermati realita yang terjadi -terkhusus di negara kita-, maka akan terlihat bahwa hampir pada setiap akhir tahun, kita melihat banyak bencana yang melanda negeri kita. Dan di antara penyebabnya adalah banyaknya dosa.

Mungkin bagi sebagian orang menganggap bahwa munculnya bencana adalah karena gejala alam yang lumrah terjadi, tapi bagi orang yang beriman akan meyakini bahwa hal tersebut adalah karena perbuatan manusia sendiri. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)

5. Nasehat di Akhir Tahun

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita senantiasa bertakwa kepada Allah Ta'ala. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

"Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah kejelekan dengan kebaikan, maka ia (kebaikan) akan menghapusnya(kejelekan). Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Merupakan bentuk ketakwaan seorang hamba terkhusus di akhir tahun, adalah tidak ikut-ikutan meramaikan maksiat, tidak halal bagi seorang muslim mengucapkan "Selamat Natal", serta tidak ikut dalam merayakan tahun baru yang merupakan produk orang-orang kafir.

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi renungan bagi kita, yang memotivasi agar memperbanyak amal saleh serta dorongan untuk segera bertaubat kepada-Nya.
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita istiqamah di jalan-Nya, dan menjauhkan kita dari segala kejelekan yang nampak maupun yang tersembunyi. Aamin.

Wallahu a'lam.

Semoga Bermanfaat dan jangan lupa di Share.

Wassalam

Sunday, December 25, 2016

Menghindari Kesalah Pahaman Tentang Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru


Assalamu'alaikum...
(Mohon baca secara menyeluruh untuk hindari kesalah fahaman)

(Oleh : Ust.Yusuf Mansur)

Bertahun-tahun biasanya kujawab secara offline tentang 25 Desember dan 1 Januari..
Karena menghargai beberapa relasiku yang berprofesi sebagai misionaris.
Mereka tahu dakwahku tapi kami saling menghargai.

Mohon maaf setulusnya, bila tulisan ini akan tidak disukai sebagian dari sahabat-sahabat muslim. Tapi sudah saatnya harus dijelaskan terbuka secara ilmu ke-TAUHID-an.

Membaca berita seorang muslim modern menantang Ustadz  Yusuf Mansur (Official) untuk menunjukan dalil Pelarangan mengucapkan SELAMAT NATAL. Berharap tulisan ini bukan hanya menjawab tantangannya, tetapi untuk diketahui saudaraku muslimin dan muslimat yang tidak ingin syahadatnya gugur.....

Kupasan berdasarkan ilmu TAUHID...

🗣Bila kita mengucapkan...
... kalimat SELAMAT ULANG TAHUN kepada seseorang, berarti kita mengakui bahwa dia lahir di tanggal itu..

🗣Bila kita mengucapkan...
...kalimat SELAMAT ATAS PELANTIKAN JABATAN, berarti kita mengakui dirinya sebagai pejabat baru.....

🗣Bila kita mengucapkan...
...kalimat SELAMAT ATAS KEMENANGAN PERTANDINGAN, berarti kita mengakui lawan sebagai pemenang......

Ternyata kata SELAMAT bermakna PENGAKUAN

Kalau banyak pertanyaan, bukankah mengucapkan SELAMAT NATAL hanya merupakan sebuah ucapan saja.......???

Wahai saudaraku....!!!
...Seorang muslim dinilai dari ucapannya...

Bukankah SYAHADAT juga hanya UCAPAN.......???
..tapi mengapa setelah berucap SYAHADAT seseorang menjadi  Muslim.......???

Bukankah BISMILLAH juga hanya UCAPAN.........???
..tapi mengapa hewan yang disembelih tanpa mengucap BISMILLAAH, dagingnya Haram dimakan...?

Bukankah AQAD NIKAH juga hanya  UCAPAN..........???
..tapi mengapa setelah diucapkan, suami Halal menggauli istri bolak balik.

Bukankah kata CERAI juga hanya UCAPAN..?
..Tapi mengapa bila suami mengucapkan kata ini terhadap istrinya baik secara bercanda maupun tidak, maka akan jatuh hukum CERAI bagi istrinya...

Saat kita mengucapkan SELAMAT NATAL dan TAHUN BARU, atau hari raya agama lain, disitulah awal KITA MENGAKUI keberadan Tuhan lain yang berarti kita mengakui adanya beberapa Tuhan.

Berarti sudah tidak sesuai dengan SYAHADAT yang diucapkan dan Surat Al Ikhlas ayat 1 serta beberapa ayat lainnya.

Padahal meng-ingkari 1 AYAT QUR'AN saja...sudah dikategorikan sebagai orang kafir yang sebenar-benarnya...

Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.
[ Qur'an Surat An Nisa (4) ayat 151 ]

Inilah ayat-ayat yang menegaskan TERHAPUSNYA SYAHADAT yang pernah diucapkan dikarenakan ucapan selamat hari raya umat lain...

Sesungguhnya telah KAFIR lah orang-orang yang berkata/mengakui

"Sesungguhnya ALLAH ialah Al Masih putra Maryam, padahal Al Masih sendiri berkata " Hai Bani Israil, sembahlah ALLAH Tuhan-ku dan Tuhan-mu..."
[ Qur'an Surat Al Maidah (5) ayat 72 ]

"...Janganlah kamu mengatakan TUHAN itu tiga, berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu.

Sesungguhnya ALLAH Tuhan yang Maha Esa. Maha Suci ALLAH dari mempunyai anak..."
[ Qur'an Surat An Nisa (4) ayat 171 ]

"Dan mereka berkata, "Tuhan yang maha pemurah mempunyai anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat MUNKAR"
[ Qur'an Surat Maryam (19) ayat 88-89 ]

Saudaraku umat Nasrani dan para pendeta,

Perbedaan kita hanya pada nabi Isa, padahal bagi kami Nabi Isa adalah salah satu Rasul yang utama.
Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah terbukti dalam Sejarah, bahwa Tanggal 25 Desember itu hari kelahiran Janus dan Mitra, Sang Dewa Matahari.

Bunda Maryam melahirkan Nabi Isa disaat pohon kurma berbuah, yang berarti disaat musim panas tetapi 25 Desember adalah musim dingin...

Wahai para pendeta dan missionaris...
Kamipun meng-imani Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa...
Bahkan Nabi kami, Muhammad memiliki paman dari istri yang seorang pendeta nasrani bernama Waraqah...
Jadi Islam sangat paham bagaimana toleransi yang benar...

Wahai para penganut nasrani.

Silakan saja rayakan natal sesuai keyakinan, Karena bagi kami..."UNTUKMULAH AGAMAMU dan UNTUKULLAH AGAMAKU"

Tapi tegas kusampaikan.
Jangan paksa pegawai muslim berpakaian santa.
Sebagaimana kami tidak pernah pula memaksa para misionaris menggunakan peci dan sorban disaat Iedul Fitri.

Jangan paksa....!!! Undang pejabat muslim hadiri natal di gereja, Sebagaimana kami tidak pernah memaksa para pendeta hadir pada Sholat Iedul Fitri...

Saudaraku umat muslim...., Silakan saja ucapkan SELAMAT NATAL...., Silakan saja gunakan topi Santa...

Tapi....!!!  jangan menyesal, bila sholat kita batal, mati pun bukan sebagai muslim karena SYAHADAT KITA SUDAH GUGUR...

Saudaraku,
Kajilah Qur'an......karena semua pertanyaan hidup sudah ada jawabannya didalam.

Kalau penjelasan panjang ini masih meragukan hati...
Periksa saja SHOLAT SHUBUH kita, apakah sudah berjama'ah di masjid setiap hari..?

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum..

Sebarkan Status Ini...! Ini Merupakan Kepedulian Kita akan aqidah Ummat Islam..!

Membagikan = Peduli
Tidak Membagikan =  Tidak Peduli

Salam #Tauhid

Monday, December 19, 2016

Bernadzar Kepada Selain Allah Ta'ala


Pertanyaan :

Saya bernadzar untuk menyembelih sembelihan untuk Syaikh Abdurrahim Al-Qanāwi. Akan tetapi, saudaraku fillah menemuiku dan memberitahuku: bahwa hal tersebut tidak boleh, dan termasuk perbuatan syirik. Akan tetapi, sekarang saya telah berhenti sejak munculnya fatwa dari yang Mulia.
Dengan pengetahuan bahwa anak-anak saya telah menjual (hewan) nadzar saya. Dan uangnya masih ada ketika saya menemui mereka. Maka kami berharap kalian memberikan kami pelajaran:
Apakah sembelihan untuk para masyaikh tersebut haram?
Dan jika benar haram, maka apa yang kami lakukan pada nadzar ini?
Mohon agar dijawab dengan segera (pertanyaan ini).

Jawab:
Diharamkan menyembelih untuk syaikh tersebut dan selainnya dari para syaikh karena sembelihan adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta'āla, dan memalingkannya ke selain Allah adalah syirik besar (syirik akbar).

Allah Ta'āla berfirman
{ﻓﺼﻞ ﻟﺮﺑﻚ ﻭاﻧﺤﺮ}

Shalatlah karena Rabbmu dan sembelihlah (hewan kurbanmu karenaNya).
(QS.Al-Kautsar:2)

Dan Allah Ta'āla berfirman:
{ﻗﻞ ﺇﻥ ﺻﻼﺗﻲ ﻭﻧﺴﻜﻲ ﻭﻣﺤﻴﺎﻱ ﻭﻣﻤﺎﺗﻲ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ. ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ}

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya.
(QS.Al-An'ām:162-163)

Dan telah shahih dari hadits Ali radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ﻣﻠﻌﻮﻥ ﻣﻦ ﺫﺑﺢ ﻟﻐﻴﺮ اﻟﻠﻪ
"Terlaknat orang menyembelih untuk selain Allah".
(HR.Muslim)

Maka wajib atasmu untuk bertaubat dan beristighfar, dan jangan tunaikan nadzarmu. Dan hendaklah engkau memberikan uang nadzar tersebut untuk kaum muslimin yang faqir dari kerabat-kerabatmu atau selain mereka.

(Fatwa Al-Lajnah Ad-Dāimah: no.11958)

Catatan:
Di indonesia seperti bernadzar menyembelih untuk wali songo di Jawa, syaikh Yusuf di Makassar, dan selainnya.


Akhukum:
Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
Dārul-Hadîts Ma'bar-Yaman.

Hukum Merayakan Ulang Tahun Dan Menerima Hadiahnya

Tanya jawab AQIDAH ISLAM tentang hukum merayakan ulang tahun dan menerima hadiahnya Soal : Apa hukum merayakan hari ulang tahun bagi anak-...